1. Kecap versus telur ceplok
Bermula di suatu pagi yang begitu dingin sehingga mengaktifkan syaraf malas saya (emang ada ya syaraf malas ya?) dan akhirnya membuat saya memutuskan untuk membuatkan sarapan si pangeran kecil “hanya” berupa telur ceplok tanpa garam. Goreng goreng goreng, jadilah tuh telur dengan pinggiran yang gosong kecoklatan
Langkah selanjutnya adalah mengambil piring tempat makan Mahes kemudian menyendok nasi ke dalamnya untuk diangin-anginkan supaya tidak terlalu panas ketika disuapkan ke mulut mungilnya. Iseng-iseng saya tuangkan beberapa tetes kecap ke atas telur ceplok tersebut. Kegiatan suap menyuap dimulai….. Seperti biasa, jika Mahes melihat bundanya dah pegang piring tempat makannya, dia akan menunggu dengan tidak sabar dalam kondisi mulut menganga lebar. Suapan pertama meluncur dengan sukses, saya teliti dengan seksama perubahan ekspresi wajahnya, daaan tidak terjadi apa-apa!
Suapan demi suapan berlanjut hingga bulir nasi terakhir. Demi melihat piring nasinya licin tandas, direbutnya piring itu dari tangan saya kemudian dia berjalan ke dapur dan menunjuk-nunjuk magic com tempat persemayaman sang nasi sambil berteriak “mamaaam..mamaaam” pertanda perutnya masih belum terisi penuh dan geliginya belum lelah mengunyah. Kami lanjutkan sesi sarapan pagi itu dan berakhir dengan tandasnya 2 porsi sarapan Mahes

2. Kecap versus salmon
Suatu hari ketika sedang menghabiskan weekend di Be Pe, saya teringat bahwa Mahes dah lama ga makan si ikan merah ini. Akhirnya saya sempatkan mampir ke salah satu toko swalayan disana kemudian membeli sebungkus fillet ikan salmon. Keesokan harinya saya goreng si ikan dengan sedikit minyak dan garam sehingga menghasilkan salmon panggang yang sungguh menggiurkan! Selanjutnya saya masak sayur minimalis spesial untuk Mahes yang hanya berbumbu bawang putih dan sedikit garam. Setelah selesai semua, saya siapkan porsi sarapan Mahes kemudian menyuapinya. Ternyata pagi itu pangeran kecil saya kurang bernafsu makan sayur, tiap suapan yang berisi cacahan kecil wortel langsung dimuntahkannya lagi. Akhirnya saya ganti menu makannya. Saya ambil nasi baru, salmon, dan sedikit kecap, and it works!
Sarapan pagi itu terlewati dengan sukses!!!
3. Kecap versus kerupuk
Senin malam kemarin, saya dan suami membeli menu makanan yang berbeda, saya beli nasi goreng sementara suami beli sate kambing. Sesampai di rumah langsung kami bantai makanan tersebut. Nah, disinilah letak kealpaan saya! Saya lupa tidak mengantisipasi kemungkinan bahwa Mahes akan “merecoki” makan malam kami seperti kejadian yang lalu. Ketika saya sedang makan, kembali dia berteriak “mamaaaam..mamaaam..” sambil menunjuk-nunjuk piring nasi saya. Waduh, dilema ini! Lauk Mahes dah habis sore tadi, nasgor saya pedes, sate kambing ga mungkin karena Mahes belum bisa mengunyah daging dengan sempurna. Akhirnya daripada dia teriak-teriak kaya gitu saya nekat saja menyuapinya dengan nasi putih+krupuk+kecap, hasilnya? dua porsi nasi kembali ludes!

4. Kecap versus nasi putih
Kemarin pagi sekitar pukul 09.00 WIB, si ayah telpon mengabarkan bahwa pagi itu Mahes sarapan hanya dengan nasi putih yang diberi kecap. Koq gitu??? Karena ternyata gas elpiji di rumah kami habis tanpa bisa kami antisipasi sebelumnya, sehingga budhe gak bisa masak menu sarapan untuk Mahes. Daripada Mahes teriak-teriak kelaparan sementara pesanan gas belum datang, akhirnya budhe nekat menyuapinya dengan nasi putih plus kecap saja dan alhamdulillah Mahes tetep mau menghabiskannya. Hebatnya anak saya!
Yang sehat ya sayang!

sidta
23 July 2010 at 8:48 am
Mahess .. pinter …
kecap emang enak bangetttt kok … plus telor ceplok .. yumm
–orangjawasejati–
bundamahes
23 July 2010 at 11:41 am
hiyahahahaha…
emang itu tuh ciri khasnya orang Jawa ya?!
konekkita
23 July 2010 at 1:56 pm
kecap wajib ada di dapur rumahku … salam kenal, bunda